 |
| Tim Nasional Korea |
Pertandingan pertama sudah dilakoni oleh semua kontestan. Setelah banjir
gol, baru di pertandingan ke-13 ada partai yang berakhir imbang. Ini
menunjukkan dengan jelas bahwa Piala Dunia kali ini dari segi permainan
menarik untuk dinikmati oleh suporter sepak bola.
Lalu, sejauh
mana kiprah empat wakil Asia di Brasil? Kali ini, Australia, Jepang,
Korea Selatan (Korsel), dan Iran menjadi wakil Asia. Keempatnya berada
di grup yang berbeda. Australia berada di grup B dengan dua raksasa
Eropa, Spanyol dan Belanda, serta kuda hitam Cile. Jepang ada di grup C
dengan unggulan Kolombia, kemudian Pantai Gading dan Yunani.
Iran
tergabung di grup F dengan negeri Diego Maradona, Argentina, Nigeria,
serta negara yang baru pertama kali melaju ke Piala Dunia, Bosnia
Herzegovina. Sementara Korsel berada di grup H dengan Belgia, Rusia, dan
Aljazair.
Sejauh ini belum ada wakil Asia yang meraih
kemenangan. Australia dan Jepang menderita kekalahan, sementara Iran dan
Korsel memperoleh hasil imbang. Hal ini jelas mengharuskan mereka untuk
bekerja keras di pertandingan selanjutnya agar bisa memenuhi target
lolos ke perdelapan final. Tentu akan sangat memalukan bagi sepak bola
Asia jika tak satupun wakilnya yang melaju ke babak kedua.
Australia tidak beruntung berada di grup neraka
Australia
bisa dikatakan tidak beruntung dengan undian yang menempatkan mereka di
grup neraka. Mereka bertemu dengan Cile, Belanda, dan Spanyol. Sejak
awal mereka diprediksi akan kesulitan lolos dari grup ini apalagi
performa mereka selama masa persiapan sangat mengecewakan hingga sempat
memecat pelatih.
Akhirnya, Australia benar-benar tersisih dan
menjadi tim pertama yang tersingkir dari Piala Dunia. Dua kekalahan, 1-3
dari Cile, kemudian dibenamkan Belanda 3-2 sudah memastikan mereka
perlu berkemas lebih awal.
Tetapi, satu hal yang layak dipuji
adalah peningkatan permainan mereka dari saat menghadapi Cile dengan
ketika melawan Belanda. Socceroos bermain terbuka dan menghibur untuk
menguasai pertandingan di babak pertama walau mereka kebobolan lebih
dulu melalui serangan balik nan cepat yang dituntaskan Arjen Robben,
mereka memberi perlawanan yang sangat baik. Tim Cahill langsung membalas
gol Robben dengan tendangan first time nya yang banyak dibilang sebagai
gol terbaik turnamen sejauh ini. Setelah sempat berbalik unggul melalui
eksekusi penalti Mile Jedinak, Belanda membalas dengan dua gol Robin
Van Persie dan Memphis Depay.
 |
| Netherlands' Arjen Robben (11) Celebrates after scoring his side's first goal dunring group B World Cup |
|
|
|
|
Penguasaan bola berimbang, masing-masing 50 persen serta mampu
melesakkan delapan tendangan tepat sasaran jelas menunjukkan kualitas
Australia cukup bagus. Bahkan mereka bisa mengimbangi Belanda yang
sebelumnya menghancurkan Spanyol 5-1.
Bagaimanapun permainan
terbaik tidak serta merta membuat mereka aman. Nilai yang dikumpulkan
akhirnya harus menghukum mereka. Belum mengoleksi satu poin pun jelas
memastikan langkah terhenti. Satu laga terakhir menghadapi Spanyol perlu
jadi pembuktian bahwa mereka punya kualitas yang cukup baik untuk
menjadi wakil Asia. Kini Asia berharap pada tiga wakil lainnya untuk
bisa berbicara lebih banyak.
Jepang jauh dari ekspektasi
Diantara
negara Asia, Jepang merupakan tim yang paling diharapkan oleh publik
sepak bola Asia bisa berbicara banyak di perhelatan kali ini. Maklum
mereka merupakan juara bertahan Piala Asia 2011 dan menjadi wakil Asia
di ajang Piala Konfederasi 2013 yang menjadi turnamen pemanasan sebelum
Piala Dunia.
Alberto Zacceroni merupakan garansi kualitas seorang
pelatih yang bagus dan handal meracik strategi. Ditinjau dari komposisi
skuat, Jepang bisa dibilang juga yang terbaik. 12 dari 23 pemain yang
dibawa ke Brasil berlaga di kompetisi top Eropa. Keisuke Honda dan
Shinji Kagawa dikenal punya kemampuan yang mumpuni untuk bisa bersaing
dengan pemain-pemain top dunia. Belum lagi nama seperti Maya Yoshida,
Yuto Nagatomo, Makoto Hasebe, maupun Atsushi Uchida.
Tetapi,
nyatanya penampilan pertama mereka bisa dikatakan tidak memenuhi
harapan, walaupun tidak bisa dikatakan mereka tampil buruk pula. Jepang
sempat menguasai permainan di awal pertandingan. Honda membawa Samurai
Biru unggul di menit 16. Tapi, petaka hadir di pertengahan kedua ketika
gol dari Wilfried Bony hadir di menit 64 dan Gervinho dua menit
kemudian.
Kedua gol Pantai Gading menunjukkan kelemahan Jepang
selama ini yang belum bisa diperbaiki, antisipasi bola udara. Semua gol
berasal dari umpan silang yang dilepaskan Serge Aurier. Tidak ada
penjagaan yang berarti pada Aurier. Kemudian juga lemah dalam duel bola
udara meski Bony dan Gervinho sebenarnya tak memiliki keunggulan postur
terhadap bek Jepang. Antisipasi Eiji Kawashima juga sangat buruk,
terutama gol kedua.
Lebih buruk lagi, setelah tertinggal Jepang tak punya semangat
berarti untuk membalas. Mereka kesulitan menguasai permainan sehingga
penguasaan bola hanya 43 persen kemudian secara keseluruhan hanya 4
tendangan yang tepat sasaran dari 7 percobaan yang dilakukan. Jauh dari
sang lawan yang melepaskan 19 tembakan dengan 9 di antaranya mengarah ke
gawang. Zacceroni harus segera memperbaiki agar bisa meraih poin penuh
ketika bertemu Yunani karena di partai terakhir mereka akan bertemu
Kolombia.
Iran meraih hasil yang baik tapi membosankan
Pertandingan
Iran melawan Nigeria berakhir imbang 0-0. Ini merupakan laga pertama
yang berakhir imbang. Skor kacamata sangat tidak menggambarkan turnamen
yang telah menghasilkan 41 gol dari 12 pertandingan dengan rataan 3,4
gol per partai.
Hasil tersebut menggambarkan bahwa pertandingan
berlangsung sedikit membosankan. Oleh Guardian, pertandingan ini hanya
menarik di tujuh menit awal sementara 83 menit sisanya membosankan
dengan hanya ada satu peluang bagus melalui tandukan Reza Ghoochannejhad
yang dihadapi dengan penyelamatan menawan oleh Vincent Enyeama, kiper
Nigeria di menit 34.
Carlos Queiroz, pelatih Iran, meski sudah
memainkan pola 4-3-3 tetap menginstruksikan pemainnya untuk lebih banyak
menunggu di area pertahanannya sendiri. Ini membuat mereka hanya punya
37 persen penguasaan bola. Hanya ada tujuh tendangan yang dilepaskan
dengan tiga diantaranya mengarah ke gawang. Sementara peluang
Ghoochannejhad di menit 34 merupakan satu-satunya
Pada kesempatan kali ini, Iran mengandalkan duet Reza Ghoochannejad,
penyerang Charlton Atletic, dan Askhan Dejagah, yang bermain untuk
Fulham. Menariknya keduanya lahir di Iran tetapi kemudian bermigrasi
ketika masih muda. Ghoochannejhad yang mengemas sembilan gol dari
sebelas pertandingan kualifikasi pernah membela Belanda di level junior.
Sementara Dejagah sempat membela tim muda Jerman.
Mengingat
Nigeria belum pernah menang dari delapan pertandingan Piala Dunia
terakhirnya sejak mengalahkan Bulgaria tahun 1998 selayaknya Queiroz
menargetkan kemenangan alih-alih memilih bertahan. Lawan selanjutnya,
Argentina dan Bosnia-Herzegovina jelas lebih sulit untuk ditaklukkan.
Korea Selatan wakil Asia terbaik sejauh ini
Lee
Keun-ho memperoleh bantuan Dewi Fortuna seperti yang diperoleh Clint
Dempsey empat tahun lalu. Tendangan kerasnya ke arah gawang Rusia di
menit 68 sebenarnya mengarah tepat ke kiper, tapi Igor Akinfeev
melakukan kecerobohan sehingga gagal mengamankan bola. Bola yang
seharusnya bisa dia amankan justru terlepas dari tangannya. Kejadian
yang mirip ketika Robert Green gagal mengamankan gawang Inggris dari
tendangan Dempsey di Rustenburg, Afrika Selatan. Uniknya ketika itu
Inggris dilatih oleh Fabio Capello yang kini mengarsiteki tim Beruang
Merah.
Walaupun akhirnya kemenangan Korsel sirna setelah
Alexander Kerzhakov mencetak gol di menit 74, penampilan tim negeri
ginseng bisa dikatakan sebagai yang terbaik di antara wakil Asia
lainnya. Hingga menit 68, bisa dikatakan Korsel lebih mendominasi dengan
bermain cepat ketika Rusia nampak lebih memilih bergerak lamban.
Setelah gol Lee Keun-ho barulah Rusia bangun dan mulai serius
melancarkan serangan.
Statistik menunjukkan bahwa penguasaan bola
Korsel adalah 52 persen, tentu lebih baik dari sang lawan. Meski dari
segi efektivitas serangan masih kalah. 6 shots on target berbanding 10
milik Rusia.
Hong Myung Bo, pelatih Korsel yang mengkapteni
timnas Korsel Piala Dunia 2002 menjawab kritikan yang dialamatkan
kepadanya bahwa Korsel dianggap sebagai wakil Asia terlemah. Sang kapten
yang pernah membawa KOrsel sampai semi final di tahun 2002 itu
membuktikan anak-anak buahnyalah yang paling punya peluang untuk melaju
ke babak selanjutnya. Meski itu harus mereka buktikan lagi dengan
mengalahkan Aljazair di pertandingan berikutnya mengingat di laga
terakhir, Belgia sudah menanti.
Sumber: yahoo.com