Kamis, 19 Juni 2014

Penampilan Wakil Asia Belum Memuaskan

REUTERS/Jorge Adorno
Tim Nasional Korea
Pertandingan pertama sudah dilakoni oleh semua kontestan. Setelah banjir gol, baru di pertandingan ke-13 ada partai yang berakhir imbang. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Piala Dunia kali ini dari segi permainan menarik untuk dinikmati oleh suporter sepak bola.

Lalu, sejauh mana kiprah empat wakil Asia di Brasil? Kali ini, Australia, Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Iran menjadi wakil Asia. Keempatnya berada di grup yang berbeda. Australia berada di grup B dengan dua raksasa Eropa, Spanyol dan Belanda, serta kuda hitam Cile. Jepang ada di grup C dengan unggulan Kolombia, kemudian Pantai Gading dan Yunani.

Iran tergabung di grup F dengan negeri Diego Maradona, Argentina, Nigeria, serta negara yang baru pertama kali melaju ke Piala Dunia, Bosnia Herzegovina. Sementara Korsel berada di grup H dengan Belgia, Rusia, dan Aljazair.

Sejauh ini belum ada wakil Asia yang meraih kemenangan. Australia dan Jepang menderita kekalahan, sementara Iran dan Korsel memperoleh hasil imbang. Hal ini jelas mengharuskan mereka untuk bekerja keras di pertandingan selanjutnya agar bisa memenuhi target lolos ke perdelapan final. Tentu akan sangat memalukan bagi sepak bola Asia jika tak satupun wakilnya yang melaju ke babak kedua.


Australia tidak beruntung berada di grup neraka
Australia bisa dikatakan tidak beruntung dengan undian yang menempatkan mereka di grup neraka. Mereka bertemu dengan Cile, Belanda, dan Spanyol. Sejak awal mereka diprediksi akan kesulitan lolos dari grup ini apalagi performa mereka selama masa persiapan sangat mengecewakan hingga sempat memecat pelatih.

Akhirnya, Australia benar-benar tersisih dan menjadi tim pertama yang tersingkir dari Piala Dunia. Dua kekalahan, 1-3 dari Cile, kemudian dibenamkan Belanda 3-2 sudah memastikan mereka perlu berkemas lebih awal.

Tetapi, satu hal yang layak dipuji adalah peningkatan permainan mereka dari saat menghadapi Cile dengan ketika melawan Belanda. Socceroos bermain terbuka dan menghibur untuk menguasai pertandingan di babak pertama walau mereka kebobolan lebih dulu melalui serangan balik nan cepat yang dituntaskan Arjen Robben, mereka memberi perlawanan yang sangat baik. Tim Cahill langsung membalas gol Robben dengan tendangan first time nya yang banyak dibilang sebagai gol terbaik turnamen sejauh ini. Setelah sempat berbalik unggul melalui eksekusi penalti Mile Jedinak, Belanda membalas dengan dua gol Robin Van Persie dan Memphis Depay.
Netherlands' Arjen Robben (11) celebrates after scoring his side's first goal during the group B World Cup soccer match between Australia and the Netherlands at the Estadio Beira-Rio in Porto Alegre, Brazil, Wednesday, June 18, 2014. (AP Photo/Jon Super)
Netherlands' Arjen Robben (11) Celebrates after scoring his side's first goal dunring group B World Cup



Penguasaan bola berimbang, masing-masing 50 persen serta mampu melesakkan delapan tendangan tepat sasaran jelas menunjukkan kualitas Australia cukup bagus. Bahkan mereka bisa mengimbangi Belanda yang sebelumnya menghancurkan Spanyol 5-1.

Bagaimanapun permainan terbaik tidak serta merta membuat mereka aman. Nilai yang dikumpulkan akhirnya harus menghukum mereka. Belum mengoleksi satu poin pun jelas memastikan langkah terhenti. Satu laga terakhir menghadapi Spanyol perlu jadi pembuktian bahwa mereka punya kualitas yang cukup baik untuk menjadi wakil Asia. Kini Asia berharap pada tiga wakil lainnya untuk bisa berbicara lebih banyak.


Jepang jauh dari ekspektasi
Diantara negara Asia, Jepang merupakan tim yang paling diharapkan oleh publik sepak bola Asia bisa berbicara banyak di perhelatan kali ini. Maklum mereka merupakan juara bertahan Piala Asia 2011 dan menjadi wakil Asia di ajang Piala Konfederasi 2013 yang menjadi turnamen pemanasan sebelum Piala Dunia.

Alberto Zacceroni merupakan garansi kualitas seorang pelatih yang bagus dan handal meracik strategi. Ditinjau dari komposisi skuat, Jepang bisa dibilang juga yang terbaik. 12 dari 23 pemain yang dibawa ke Brasil berlaga di kompetisi top Eropa. Keisuke Honda dan Shinji Kagawa dikenal punya kemampuan yang mumpuni untuk bisa bersaing dengan pemain-pemain top dunia. Belum lagi nama seperti Maya Yoshida, Yuto Nagatomo, Makoto Hasebe, maupun Atsushi Uchida.

Tetapi, nyatanya penampilan pertama mereka bisa dikatakan tidak memenuhi harapan, walaupun tidak bisa dikatakan mereka tampil buruk pula. Jepang sempat menguasai permainan di awal pertandingan. Honda membawa Samurai Biru unggul di menit 16. Tapi, petaka hadir di pertengahan kedua ketika gol dari Wilfried Bony hadir di menit 64 dan Gervinho dua menit kemudian.

Kedua gol Pantai Gading menunjukkan kelemahan Jepang selama ini yang belum bisa diperbaiki, antisipasi bola udara. Semua gol berasal dari umpan silang yang dilepaskan Serge Aurier. Tidak ada penjagaan yang berarti pada Aurier. Kemudian juga lemah dalam duel bola udara meski Bony dan Gervinho sebenarnya tak memiliki keunggulan postur terhadap bek Jepang. Antisipasi Eiji Kawashima juga sangat buruk, terutama gol kedua.

(AP Photo/Shuji Kajiyama)

Lebih buruk lagi, setelah tertinggal Jepang tak punya semangat berarti untuk membalas. Mereka kesulitan menguasai permainan sehingga penguasaan bola hanya 43 persen kemudian secara keseluruhan hanya 4 tendangan yang tepat sasaran dari 7 percobaan yang dilakukan. Jauh dari sang lawan yang melepaskan 19 tembakan dengan 9 di antaranya mengarah ke gawang. Zacceroni harus segera memperbaiki agar bisa meraih poin penuh ketika bertemu Yunani karena di partai terakhir mereka akan bertemu Kolombia.


Iran meraih hasil yang baik tapi membosankan
Pertandingan Iran melawan Nigeria berakhir imbang 0-0. Ini merupakan laga pertama yang berakhir imbang. Skor kacamata sangat tidak menggambarkan turnamen yang telah menghasilkan 41 gol dari 12 pertandingan dengan rataan 3,4 gol per partai.

Hasil tersebut menggambarkan bahwa pertandingan berlangsung sedikit membosankan. Oleh Guardian, pertandingan ini hanya menarik di tujuh menit awal sementara 83 menit sisanya membosankan dengan hanya ada satu peluang bagus melalui tandukan Reza Ghoochannejhad yang dihadapi dengan penyelamatan menawan oleh Vincent Enyeama, kiper Nigeria di menit 34.

Carlos Queiroz, pelatih Iran, meski sudah memainkan pola 4-3-3 tetap menginstruksikan pemainnya untuk lebih banyak menunggu di area pertahanannya sendiri. Ini membuat mereka hanya punya 37 persen penguasaan bola. Hanya ada tujuh tendangan yang dilepaskan dengan tiga diantaranya mengarah ke gawang. Sementara peluang Ghoochannejhad di menit 34 merupakan satu-satunya

Nigeria's Joseph Yobo, left, challenges Iran's Reza Ghoochannejhad during the group F World Cup soccer match between Iran and Nigeria at the Arena da Baixada in Curitiba, Brazil, Monday, June 16, 2014. (AP Photo/Martin Meissner)

Pada kesempatan kali ini, Iran mengandalkan duet Reza Ghoochannejad, penyerang Charlton Atletic, dan Askhan Dejagah, yang bermain untuk Fulham. Menariknya keduanya lahir di Iran tetapi kemudian bermigrasi ketika masih muda. Ghoochannejhad yang mengemas sembilan gol dari sebelas pertandingan kualifikasi pernah membela Belanda di level junior. Sementara Dejagah sempat membela tim muda Jerman.


Mengingat Nigeria belum pernah menang dari delapan pertandingan Piala Dunia terakhirnya sejak mengalahkan Bulgaria tahun 1998 selayaknya Queiroz menargetkan kemenangan alih-alih memilih bertahan. Lawan selanjutnya, Argentina dan Bosnia-Herzegovina jelas lebih sulit untuk ditaklukkan.
Korea Selatan wakil Asia terbaik sejauh ini
Lee Keun-ho memperoleh bantuan Dewi Fortuna seperti yang diperoleh Clint Dempsey empat tahun lalu. Tendangan kerasnya ke arah gawang Rusia di menit 68 sebenarnya mengarah tepat ke kiper, tapi Igor Akinfeev melakukan kecerobohan sehingga gagal mengamankan bola. Bola yang seharusnya bisa dia amankan justru terlepas dari tangannya. Kejadian yang mirip ketika Robert Green gagal mengamankan gawang Inggris dari tendangan Dempsey di Rustenburg, Afrika Selatan. Uniknya ketika itu Inggris dilatih oleh Fabio Capello yang kini mengarsiteki tim Beruang Merah.

Walaupun akhirnya kemenangan Korsel sirna setelah Alexander Kerzhakov mencetak gol di menit 74, penampilan tim negeri ginseng bisa dikatakan sebagai yang terbaik di antara wakil Asia lainnya. Hingga menit 68, bisa dikatakan Korsel lebih mendominasi dengan bermain cepat ketika Rusia nampak lebih memilih bergerak lamban. Setelah gol Lee Keun-ho barulah Rusia bangun dan mulai serius melancarkan serangan.

Statistik menunjukkan bahwa penguasaan bola Korsel adalah 52 persen, tentu lebih baik dari sang lawan. Meski dari segi efektivitas serangan masih kalah. 6 shots on target berbanding 10 milik Rusia.

Hong Myung Bo, pelatih Korsel yang mengkapteni timnas Korsel Piala Dunia 2002 menjawab kritikan yang dialamatkan kepadanya bahwa Korsel dianggap sebagai wakil Asia terlemah. Sang kapten yang pernah membawa KOrsel sampai semi final di tahun 2002 itu membuktikan anak-anak buahnyalah yang paling punya peluang untuk melaju ke babak selanjutnya. Meski itu harus mereka buktikan lagi dengan mengalahkan Aljazair di pertandingan berikutnya mengingat di laga terakhir, Belgia sudah menanti.

Sumber: yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar